Selasa, 06 Juni 2017

Quantum Teaching Learning Model

1.        Konsep  Pembelajaran Quantum

Quantum teaching pertama kali dikembangkan oleh  Bobbi De Porter. Mulai dipraktekkan pada tahun 1992, dengan mengilhami rumus yang terkenal dalam fisika kuantum yaitu masa kali kecepatan cahaya kuadrat sama dengan energi. Dengan rumus itulah mendefinisikan Quantum sebagai interaksi yang mengubah energi menjadi cahaya. Pembelajaran Quantum bermakna interaksi-interaksi yang mengubah energi menjadi cahaya karena semua energi adalah kehidupan dan dalam proses pembelajarannya mengandung keberagaman dan interdeterminisme. Dengan kata lain interaksi-interaksi yang dimaksud mengubah kemampuan dan bakat alamiah siswa menjadi cahaya yang akan bermanfaat bagi mereka sendiri dan bagi orang lain.

Pembelajaran kuantum adalah pembelajaran yang mampu menciptakan interaksi dan keaktifan siswa, sehingga kemampuan, bakat, dan potensi siswa dapat berkembang, yang pada akhirnya mampu meningkatkan prestasi belajar dengan menyingkirkan hambatan belajar melalui penggunaan cara dan alat yang tepat, sehingga siswa dapat belajar secara mudah. Pada proses pembelajaran kuantum terjadi penyelarasan dan pemberdayaan komunitas belajar, sehingga guru dan siswa yang terlibat dalam proses pembelajaran sama- sama merasa senang dan saling bekerja sama untuk mencapai hasil yang maksimal.

Adapun tujuan dari Pembelajaran Quantum adalah Untuk menciptakan lingkungan belajar yang efektif, menciptakan proses belajar yang menyenangkan,  menyesuaikan kemampuan otak dengan apa yang dibutuhkan oleh otak, untuk membantu meningkatkan keberhasilan hidup dan karir dan untuk membantu mempercepat dalam pembelajaran. Pembelajaran Quantum berpangkal pada psikologi kognitif, dan bukan fisika kuantum meskipun serba sedikit istilah dan konsep kuantum dipakai, pembelajaran kuantum juga bersifat humanistis dan lebih konstruktivistis.

2.    Karakteristik Quantum Teaching & Leraning

a.  Berpangkal pada psikologi kognitif
b.  Bersifat humanistik, manusia selaku pembelajar menjadi pusat perhatian.
c.  Bersifat konstruktivistis.
d.  Memusatkan perhatian pada interaksi yang bermutu dan bermakna.
e.   Menekankan pada pemercepatan pembelajaran dengan taraf keberhasilan tinggi.
f.    Menekankan kealamiahan dan kewajaran proses pembelajaran.
g.   Menekankan kebermaknaan dan dan kebermutuan proses pembelajaran.
h.   Memiliki model yang memadukan konteks dan isi pembelajaran.
i.    Menyeimbangkan keterampilan akademis, keterampilan hidup dan prestasi material.

3.      Prinsip-Prinsip dalam Quantum Teaching

1) segalanya berbicara;
2) segalanya bertujuan;
3) pengalaman sebelum pemberian nama;
4) akui setiap usaha;
5) jika layak dipelajari, maka layak pula dirayakan.

Dalam pelaksanaannya, Quantum Teaching melakukan langkah-langkah pengajaran dengan 6 (enam) langkah yang tercermin dalam istilah Tandur yang merupakan singkatan dari tumbuhkan, alami, namai, demonstrasikan, ulangi, dan rayakan.


4.       Karakteristik Quantum Teaching & Leraning

a. Berpangkal pada psikologi kognitif
b. Bersifat humanistik, manusia selaku pembelajar menjadi pusat perhatian. Potensi diri, kemampuan pikiran, daya motivasi dan sebagainya dari pembelajar dapat berkembang secara optimal dengan meniadakan hukuman dan hadiah karena semua usaha yang dilakukan pembelajar dihargai. Kesalahan sebagai manusiawi
c. Bersifat konstruktivistis, artinya memadukan, menyinergikan, dan mengolaborasikan faktor potensi diri manusia selaku pembelajar dengan lingkungan (fisik dan mental) sebagai konteks pembelajaran. Oleh karena itu, baik lingkungan maupun kemampuan pikiran atau potensi diri manusia harus diperlakukan sama dan memperoleh stimulant yang seimbang agar pembelajaran berhasil baik
d. Memusatkan perhatian pada interaksi yang bermutu dan bermakna. Dalam proses pembelajaran dipandang sebagai penciptaan intekasi-interaksi bermutu dan bermakna yang dapat mengubah energi kemampuan pikiran yang dapat mengubah energi kemampuan pikiran dan bakat alamiah pembelajar menjadi cahaya yang bermanfaat bagi keberhasilan pembelajar.
e. Menekankan pada pemercepatan pembelajaran dengan taraf keberhasilan tinggi. Dalam prosesnya menyingkirkan hambatan dan halangan sehingga menimbulkan hal-hal yang seperti: suasana yang menyengkan, lingkungan yang nyaman, penataan tempat duduk yang rileks, dan lain-lain.
f. Menekankan kealamiahan dan kewajaran proses pembelajaran. Dengan kealamiahan dan kewajaran menimbulkan suasana nyaman, segar sehat, rileks, santai, dan menyenangkan serta tidak membosankan.
g. Menekankan kebermaknaan dan dan kebermutuan proses pembelajaran. Dengan kebermaknaan dan kebermutuan akan menghadirkan pengalaman yang dapat dimengerti dan berarti bagi pembelajar, terutama pengalaman perlu diakomodasi secara memadai.
h. Memiliki model yang memadukan konteks dan isi pembelajaran. Konteks pembelajaran meliputi suasana yang memberdayakan, landasan yang kukuh, lingkungan yang mendukung, dan rancangan yang dinamis. Sedangkan isi pembelajaran meliputi: penyajian yang prima, pemfasilitasan yang fleksibel, keterampilan belajar untuk belajar dan keterampilan hidup.
i.  Menyeimbangkan keterampilan akademis, keterampilan hidup dan prestasi material.
j.  Menanamkan nilai dan keyakinan yang positif dalam diri pembelajar. Ini mengandung arti bahwa suatu kesalahan tidak dianggapnya suatu kegagalan atau akhir dari segalanya. Dalam proses pembelajarannya dikembangkan nilai dan keyakinan bahwa hukuman dan hadiah tidak diperlukan karena setiap usaha harus diakui dan dihargai.
k. Mengutamakan keberagaman dan kebebasan sebagai kunci interaksi. Dalam prosesnya adanya pengakuan keragaman gaya belajar siswa dan pembelajar.
l.   Mengintegrasikan totalitas tubuh dan pikiran dalam proses pembelajaran, sehinga pembelajaran bisa berlangsung nyaman dan hasilnya lebih optimal.

Value Relatioship :
Nilai hubungan seseorang itu ada 4 kategori, yaitu :
1. small me, small you
2. small me, big you
3. big me, smal you
4. big me, big you

            Dalam sebuah hubungan dengan seseorang atau teman atau rekan kerja, kita harus mengkategorikannya dalam BIG ME BIG YOU. Dengan seperti itu kita menganggap bahwa diri kita sama dengan orang lain dalam hal kemampuan atau pun sikap. Kita tidak boleh menganggap bahwa kita kecil atau besar dari orang lain. Tapi kita harus menganggap diri kita dan orang lain besar untuk dapat maju.

Contoh dari BIG ME, BIG YOU:


 Di dalam kelas terdapat 20 orang, ada dua siswa nama nya adalah agung dan uri, dimana agung ini adalah seseorng yang pintar dalam pembelajran kimia sedang kan uri ini adalah orang yang ahli dalam bermain gitar, agung tidak sombong dengan kemampuan yang dia punya, dan uri selalu beragapan agung bisa kenapa saya tidak, dan mereka berteman dengan beragapan BIG ME BIG YOU, mereka saling membantu satu sama lain yaitu saling menguntungkan (simbiosis mutualisme)

Permasalahan

Menurut teman-teman apakah ada penerapan quantum learning pada pembelajaran kimia  di sekolah-sekolah yang kalian observasi kemaren, jika ada apakah penerepan nya berjalan dengan baik?

Selasa, 30 Mei 2017

PENELITIAN TINDAKAN KELAS (PTK)

PENELITIAN TINDAKAN KELAS (PTK)
Penelitian tindakan adalah suatu bentuk diri kolektif yang dilakukan oleh peserta – pesertanya dalam situasi sosial untuk meningkatkan penalaran dan keadilan praktek pendidikan dan praktek social mereka, serta pemahaman mereka terhadap praktek  -  praktek itu dan terhadap situasi tempat  dilakukan praktek – praktek tersebut (Kemmis dan Tagart, 198 :5– 6)
Berdasarkan uraian di atas, kita dapat menafsirkan pengertian PTK secara lebih luas, secara singkat PTK dapat di definisikan sebagai suatu bentuk penelitian yang bersifat reflektif dengan melakukan tindakan tertentu agar dapat memperbaiki atau meningkatkan praktek – praktek pembelajran di kelas, sehingga kondisi ini, sangat menghambat pencapaian tujuan pembelajran. Karena itu, guru dapat melakukan penelitian tindakan kelas agar minat  siswa terhadap pembelajaran dapat ditingkatkan.
Penelitian Tindakan Kelas (PTK) pertama kali diperkenalkan oleh ahli psikologi sosial Amerika yang bernama Kurt Lewin pada tahun 1946. Inti gagasan Lewin inilah yang selanjutnya dikembangkan oleh ahli-ahli lain seperti Stephen Kemmis, Robin McTaggart, John Elliot, Dave Ebbutt, dan sebagainya.
PTK di Indonesia baru dikenal pada akhir dekade 80-an. Oleh karenanya, sampai dewasa ini keberadaannya sebagai salah satu jenis penelitian masih sering menjadikan pro dan kontra, terutama jika dikaitkan dengan bobot keilmiahannya.
Tahapan Penelitian Tindakan Kelas
1.      perencanaan (planning)
berdasarkan pada identifikasi masalah yang dilakukan pada tahap pra PTK, rencana tindakan disusun untuk menguji secara empiris hipotesis tindakan yang ditentukan. Rencana tindakan ini mencakup semua langkah tindakan secara rinci. Segala keperluan pelaksanaan PTK, mulai dari materi/bahan ajar, rencana pengajaran yang mencakup metode/ teknik mengajar, serta teknik atau instrumen observasi/ evaluasi, dipersiapkan dengan matang pada tahap perencanaan ini.
2.      pelaksanaan (acting)
 tahap ini merupakan implementasi ( pelaksanaan) dari semua rencana yang telah dibuat. Tahap ini, yang berlangsung di dalam kelas, adalah realisasi dari segala teori pendidikan dan teknik mengajar yang telah disiapkan sebelumnya
3.      pengamatan (observing)
kegiatan observasi dilakukan bersamaan dengan pelaksanaan tindakan. Data yang dikumpulkan pada tahap ini berisi tentang pelaksanaan tindakan dan rencana yang sudah dibuat, serta dampaknya terhadap proses dan hasil intruksional yang dikumpulkan dengan alat bantu instrumen pengamatan yang dikembangkan oleh peneliti. Pada tahap ini perlu mempertimbangkan penggunaan beberapa jenis instrumen ukur penelitian guna kepentingan triangulasi data. Dalam melaksanakan observasi dan evaluasi, guru tidak harus bekerja sendiri. Dalam tahap observasi ini guru bisa dibantu oleh pengamat dari luar (sejawat atau pakar).
4.      refleksi (reflecting).
tahapan ini merupakan tahapan untuk memproses data yang didapat saat dilakukan pengamatan. Data yang didapat kemudian ditafsirkan dan dicari eksplanasinya, dianalisis, dan disintesis. Dalam proses pengkajian data ini dimungkinkan untuk melibatkan orang luar sebagai kolaborator, seperti halnya pada saat observasi. Keterlebatan kolaborator sekedar untuk membantu peneliti untuk dapat lebih tajam melakukan refleksi dan evaluasi.

Fungsi Penelitian Tindakan Kelas (PTK)
Fungsi PTK sebagai alat untuk  meningkatkan kualitas pelaksanaan   kerja di sekolah dan ruang kelas, misalnya, penelitian tindakan dapat memiliki lima kategori fungsi sebagai (Cohen dan Manion, 1980) :
1.      Alat untuk memecahkan masalah yang didiagnosis dalam situasi   tertentu;
2.   Alat pelatihan dalam jabatan, dengan demikian membekali guru yang bersangkutan serta keterampilan dan metode baru, mempertajam kemampuan analisisnya, dan perubahan;
3.  Alat untuk mengenalkan pendekatan tambahan atau inovasi pada pengajaran dan pembelajaran ke dalam sistem sekolah yang  biasanya menghambat inovasi dan perubahan;
4)   Alat untuk meningkatkan komunikasi yang biasanya kurang lancar antara guru lapangan dengan penelitian akademis, dan memperbaiki kegagalan penelitian tradisional dalam memberikan deskripsi yang jelas; dan
5)   Alat untuk menyediakan alternatif yang lebih baik daripada pendekatan yang lebih subjektif dan impresionistik pada pemecahan masalah di dalam kelas.
Karakteristik Penelitian Tindakan Kelas
Adapun beberapa karakter tersebut adalah:
1. PTK hanya dilakukan oleh guru yang memahami bahwa proses pembelajaran perlu diperbaiki dan ia terpanggil jiwanya untuk memberikan tindakan-tindakan tertentu untuk membenahi masalah dalam proses pembelajaran dengan cara melakukan kolaborasi. Menurut Usman (dalam Daryanto,2011:2) guru dengan kompetensi tinggi merupakan seorang yang memiliki kemampuan dan keahlian serta keterampilan dalam bidangnya. Sehingga Ia dapat melakukan fungsi dan tugasnya sebagai pengajar dan pendidik dengan maksimal.
2. Refleksi diri, refleksi merupakan salah satu ciri khas PTK yang paling esensial. Dan ini sekaligus sebagai pembeda PTK dengan penelitian lainnya yang menggunakan responden dalam mengumpulkan data, sementara dalam PTK pengumpulan data dilakukan dengan refleksi diri. (Tahir,2012:80)
3.Penelitian tindakan kelas dilaksanakan di dalam “kelas” sehingga interaksi antara siswa dengan guru dapat terfokuskan secara maksimal. “Kelas” yang dimaksud di sini bukan hanya ruang yang berupa gedung, melainkan “tempat” berlangsungnya proses pembelajaran antara guru dan murid. (Suyadi,2012:6)
4. PTK bertujuan untuk memperbaiki proses pembelajaran secara terus menerus. PTK dilaksakan secara berkesinambungan di mana setiap siklus mencerminkan peningkatan atau perbaikan. Siklus sebelumnya merupakan patokan untuk siklus selanjutnya. Sehingga diperoleh model pembelajaran yang paling baik. (Daryanto,2011:6)
5.PTK merupakan salah satu indikator dalam peningkatan profesionalisme guru, karena PTK memberi motivasi kepada guru untuk berfikir Kritis dan sistematis, membiasakan guru untuk menulis, dan membuat catatan yang dapat. Di mana semua itu dapat menunjang kemampuan guru dalam pembelajaran. (Daryanto,2011:6)
6.PTK bersifat fleksibel sehingga mudah diadaptasikan dengan keadaan kelas. Dengan demikian proses pembelajaran tidak monoton oleh satu model saja.(Tahir,2012:81)
Permasalahan:

Apakah dengan melakukan penelitian tindakan kelas ini bisa meningkatkan minat siswa dalam belajar? Jika ia tolong beri alasan nya?

Selasa, 23 Mei 2017

Diagonisis dan Tindakan Klinis Mengatasi Kesulitan Siswa Yang Malas Belajar Kimia

Diagonisis dan Tindakan Klinis Mengatasi Kesulitan Siswa Yang Malas Belajar Kimia
 Diagnosis
Diagnosis merupakan istilah teknis (terminology) yang kita adopsi dari bidang medis. Menurut Thorndike dan Hagen (1955:530-532), diagnosis dapat diartikan sebagai
1.                 Upaya atau proses menemukan kelemahan atau penyakit apa yang dialami seseorang dengan melalui pengujian dan studi yang saksama mengenai gejala-gejalanya.
2.                 Studi yang saksama terhadap fakta tentang suatu hal untuk menemukan karakteristik atau kesalahan-kesalahan dan sebagainya yang sesensial.
3.                 Keputusan yang dicapai setelah dilakukan suatu studi yang saksama atas gejala-gejala atau fakta tentang suatu hal.

Dari ketiga pengertian tersebut diatas, dapat kita maklumi bahwa di dalam konsep diagnosis, secara implicit telah tersimpul pula konsep prognosisnya. Dengan demikian, di dalam pekerjaan diagnostic bukan hanya sekedar mengidentifikasi jenis dan karakteristiknya, serta latar belakang dari suatu kelemahan atau penyakit tertentu, melainkan juga mengimplikasikan suatu upaya untuk meramalkan kemungkinan dan menyarankan tindakan pemecahannya.

Langkah – langkah diagnosis kesulitan belajar

Banyak langkah-langkah diagnostik yang dapat ditempuh guru, antara lain yang cukup terkenal adalah prosedur Weener & Senf (1982) sebagaimana yang dikutip Wardani (1991) sebagai berikut:
1.     Melakukan observasi kelas untuk melihat perilaku menyimpang siswa ketika mengikuti pelajaran.
2.     Memeriksa penglihatan dan pendengaran siswa khususnya yang diduga mengalami kesulitan belajar.
3.     Mewawancarai orangtua / wali siswa untuk mengetahui hal ihwal keluarga yang mungkin menimbulkan kesulitan belajar.
4.     Memberikan tes diagnostik bidang kecakapan tertentu untuk mengetahui hakikat kesulitan belajar yang dialami siswa.
5.     Memberikan tes kemampuan intelegensi (IQ) khususnya kepada siswa yang diduga mengalami kesulitan belajar.

Sebelum kita mengetahui bagaimana cara mengatasi kesulitan siswa dalam belajar kimia, ada baiknya kita mengetahui terlebih dahulu apa faktor penyebab siswa kurang berminat atau malas untuk belajar.

1.     Faktor intern
·         Peserta didik yang lapar dan sakit atau kondisi fisiknya tidak baik tentu tidak akan menerima pelajaran dengan baik pula.
·         Kelelahan, juga mempengaruhi minat belajar siswa di dalam kelas. Ini bisa saja terjadi karena disebabkan oleh siswa yang terlalu banyak menghabiskan energinya untuk bermain, sehingga sebagian tenaganya terkuras dan malas untuk berlajar.
·         Ada masalah, anak yang tengah mengalami masalah seperti sedih dan bertengkar tentu sulit untuk konsentrasi belajar, karena fokusnya telah hilang akibat memikirkan apa yang menjadi masalahnya.
2.    Faktor ekstern
·         Model pembelajaran yang membosankan dan monoton mengakibatkan anak tidak tertarik untuk belajar.
·         Sikap guru yang tidak memperhatikan siswa dalam belajar atau sebaliknya terlalu berlebihan memperhatikan.
·         Guru kurang memberikan kesadaran kepada siswa bahwa belajar merupakan sebuah tanggung jawab dan kesadaran bukan karena mengejar nilai dan paksaan guru atau orangtua.
Beberapa masalah yang membuat anak malas belajar:
·         Beban sekolah yang terlalu banyak.
·         Sistem mengajar yang tidak menarik  atau  tidak suka pada pelajaran / guru
·         Anak tersebut bukan anak yang berorientasi akademis.
·         Gangguan fisik.
·         Masalah keluarga atau problem emosional
·         Tak ada panutan
·         Orang tua  salah bicara  saat menasehati anak.
·         Fasilitas berlebih.
·         Anak tak cocok dengan sekolahnya
·         Belum tahu cara belajar yang cocok, strategi belajar yang tepat atau lingkungan khas yang bisa memacu semangat belajarnya
·         Lingkungan  rumah  yang tidak kondusif
·         Terlalu capek
·         Kemiskinan
 Upaya Guru untuk Mengatasi Kemalasan Siswa
·        Upayakan ruang belajar yang nyaman
Kesulitan belajar bisa juga karena tempat yang tersedia tidak memadai. Karena itu, coba mendekor ruang belajar tersebut menjadi lebih nyaman. Misalnya bercerita kepada siswa tentang bagaimana dahulu sang guru menyelesaikan mata pelajaran yang dianggap sulit. Biasanya siswa cepat larut dengan cerita sehingga ia mencoba mencocok-cocokkan dengan apa yang dijalaninya sekarang.
·        Komunikasi dari orang tua di rumah
Masa kecil kita, pelajaran yang disukai tergantung bagaimana cara guru itu mengajar. Sempatkan juga waktu dan dengarkan anak-anak bercerita tentang bagaimana cara guru mereka mengajar di sekolah. Khusus soal komunikasi ini, biarkan anak-anak bercerita tentang gurunya. Sejak dini biasakan anak berperilaku sportif dan pandai menyampaikan pendapatnya.
·        Guru harus memberikan variasi-varisai dalam cara belajar.
Variasi dapat berupa metode pembelajaran, model pembelajaran dan lain-lain
·        Memberikan motivasi-motivasi agar siswa semangat dalam belajar.
Memberikan motivasi bahwa penting untuk mempelajari kimia karena kimia itu sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari.
·        Dalam mengajar hendaknya guru membuat siswa belajar dalam bentuk kerja kelompok.
Hal ini dikarenakan ketika bekerja kelompok, siswa akan semakin kaya dengan banyaknya pendapat yang diutarakan oleh setiap anggota kelompok, dan dalam diskusi kelompok ini, siswa belajar untuk menghargai pendapat orang lain.

D.   Prosedur dan Teknik Diagnosis Kesulitan Belajar
Ross dan Stanley (1956:332-341) menggariskan tahapan – tahapan diagnosis seperti yang tersaji pada halaman selanjutnya. Dari skema tersebut, tampak bahwa keempat langkah yang pertama dari diagnosis itu merupakan usaha perbaikan (corrective diagnosis) atau penyembuhan (curative). Sedangkan langkah yang kelima merupakan usaha pencegahan (preventive). Sedangkan menurut Burton (1952:640-652) penggolongan tahapan – tahapan diagnosis tidak didasarkan pada usaha penanganan, tetapi didasarkan pada teknik dan instrumen yang digunakan dalam pelaksanaannya, seperti dibawah ini :
1 General Diagnosis
Pada tahap ini lazim dipergunakan tes baku, seperti yang dipergunakan untuk evaluasi dan pengukuran psikologis dan hasil belajar. Sasarannya, untuk menemukan siapakah siswa yang diduga mengalami kelemahan tertentu.
2 Analistic Diagnosis
Pada tahap ini yang lazim digunakan ialah tes diagnostik. Sasarannya, untuk mengetahui dimana letak kelemahan tersebut.
Psychological Diagnosis
Pada tahap ini teknik pendekatan dan instrumen yang digunakan antara lain :

·                     Observasi
·                     Analisis Karya Tulis
·                     Analisis Proses dan respon lisan
·                     Analisis berbagai catatan objektif
·                     Wawancara
·                     Pendekatan laboratories dan klinis
·                     Studi Kasus
         Sasaran kegiatan diagnosis pada langkah ini pada dasarnya digunakan untuk memahami karakteristik dan faktor – faktor penyebab terjadinya kesulitan. Jika output dari layanan bimbingan belajar berupa perubahan pada diri siswa (terbimbing). Setelah menjalani tindakan penyembuhan (treatment). Maka output dari layanan diagnosis kesulitan belajar hanya sampai pada rekomendasi tentang kemungkinan alternatif tindakan penyembuhan.

Permasalahan:
Menurut teman-teman bagaimana cara yang ampuh untuk mengatasi siswa-siswa yang memiliki masalah keluarga? Supaya siswa tersebut tidak malas lagi dalam belajar

Selasa, 09 Mei 2017

Teknik-Teknik Membelajarkan Materi Kimia pada Fase Pendahuluan dan Fase Penutup


Salah satu kemampuan dasar yang harus dimiliki guru dalam melaksanakan proses pembelajaran dari beberapa kemampuan keterampilan mengajar adalah kemampuan keterampilan membuka dan menutup pelajaran. Membuka pelajaran merupakan awal dilaksanakannya proses pembelajaran, jika hal ini dilakukan dengan baik dan benar akan membawa dampak yang positif terhadap keberhasilan proses kegiatan berikutnya. Untuk mengetahui apakah proses tersebut dilakukan dengan baik dan benar, maka ada salah satu keterampilan yang harus dilakukan oleh guru, yaitu keterampilan menutup pelajaran. Oleh karena itu, kedua keterampilan ini merupakan salah satu keterampilan dari 8 (delapan) kemampuan keterampilan mengajar yang dipadukan menjadi satu kemampuan keterampilan membuka dan menutup pelajaran.
Membuka dan menutup pelajaran merupakan bagian yang sangat penting didalam proses pembelajaran. Membuka pelajaran diibaratkan sabagai kepala manusia yang menggambarkan tidak hanya bentuk wajah, tapi juga suasana hati seseorang. Membuka pelajaran memberi gambaran nyata tentang pelajaran yang akan dilaksanakan. Kegiatan ini membantu guru mendapatkan informasi langsung tentang yang akan kesiapan siswa mengikuti pelajaran, sejauh mana siswa sudah mencapai kompetensi yang sudah ditetapkan hendak dicapai. Dengan demikian pembelajaran akan dimulai sesuai dengan kondisi awal siswa dikelas tersebut.
Komponen-komponen dalam membuka pelajaran
Sebagaimana diketahui kegiatan membuka pelajaran dapat dilakukan pada setiap awal kegiatan. Komponen keterampilan yang perlu dikuasai guru dalam membuka pelajaran adalah sebagai berikut:
a.      Menarik perhatian siswa
1.      Memvariasikan gaya mengajar guru
Menggunakan alat-alat bantu mengajar yang dapat menarik perhatian siswa
-         Pola interaksi yang bervariasi
(djamarah, syaiful Bahri.2005) pembelajaran adalah suatu proses komonikasi, komonikasi pembelajaran yang dikembangkan secara interaktif akan menarik perhatian siswa, karena suasana pembelajaran tidak menonton, varisai komonikasi pembelajaran, misalnya kapan saat yang tapat untuk klasikal, individu, kelompok.
-         Tempat belajar, misalnya selaen belajar didalam kelas, juga untuk menarik perhatian siswa, guru dapat merancang pembelajaran dilakukan diluar kelas, laboratorium, perpustakaan, atau tempat belajar lainnya yang memungkin pembelajaran dapat berlangsung secara efektif dan efesien.
b.      Menumbuhkan motivasi belajar siswa, yang dapat dilakukan dengan:
-         Membangun suasana akrab sehingga siswa merasa dekat, misalnya menyapa dan berkomonikasi secara kekeluargaan.
-         Menimbulkan rasa ingin tahu, misalnya mengajak siswa untuk mempelajari suatu kasus yang sedang hangat dibicarakan.
c.      Memberi acuan atau rambu-rambu tentang pembelajaran yang akan dilakukan, yang dapat dilakukan dengan cara:
-         Mengemukakan tujuan yang akan dicapai serta tugas-tugas yang harus dilakukan dalam hubungannya dengan pencapaian tujuan.
-         Menjelaskan langkah-langkah atau tahapan pembelajaran ,sehingga siswa memahami apa yang harus dilakukan.
-         Menjelaskan target atau kemampuan yang harus dimiliki setelah pembelajran berlangsung
d.      Membuat kaitan
Untuk membuat kaitan dalam membuka pembelajran guru dapat melakukannya dengan menghubungkan antara materi yang akan disampaikan dengan materi yang telah dikuasai siswa siswi (pengetahuan siap) disamping itu perlu dikaitan dengan pengalaman,minat,dan kebutuhan siswa siswi.Cara yang dapat dilakukan guru menurut Mulyasa (2005:88) antara lain dapat berupa:
-         Mengajukan pertanyaan apersepsi
-         Mengulas sepintas garis besar isi pelajran yang  telah lalu
-         Mengaitkan materi yang diajarkan dengan lingkungan siswa siswi
-         Menghubungkan hubungkan bahan pelajran yang sejenis dan berurutan

Komponen-komponen dalam Menutup Pelajaran
guru perlu merencanakan suatu penutup yang tidak tergesa-gesa diantaranya :
1.  Merangkum Pelajaran
Sebagai penutup. Hendaknya guru memberikan ringkasan dari pelajaran yang sudah disampaikan. Ringkasan pelajaran sudah  tidak lagi berupa diskusi kelas atau penyampaian garis besar pelajaran, tetapi berisi ringkasan dari hal-hal yang disampaikan selama jam pelajaran dengan menekankan fakta dasar pelajaran tersebut.

2.  Menyampaikan Rencana Pelajaran Berikutnya
Waktu menutup pelajaran merupakan saat yang tepat untuk menyampaikan rencana pelajaran berikutnya. Guru dapat memberikan kilasan pelajaran untuk pertemuan berikutnya. Diharapkan hal ini dapat merangsang keinginan belajar mereka. Sebelum kelas dibubarkan, ungkapkanlah pelajaran yang akan disampaikan minggu depan dan kemukakan rencana-rencana di mana murid dapat mengambil bagian dalam pelajaran mendatang.

3.  Bangkitkan minat
Guru tentu ingin murid-muridnya kembali di pertemuan berikutnya dengan penuh semangat. Oleh karena itu, biarkan murid pulang ke rumah mereka dengan satu pertanyaan atau pernyataan yang megesankan, yang dapat membangkitkan minat dan rasa ingin tahu mereka. Sama seperti seorang penulis yang mengakhiri sebuah bab dalam cerita bersambung, yang membuat pembaca ingin segera tahu bab berikutnya. Dengan cara yang sama, guru dapat mengakhiri pelajarannya dengan penutup yang “berklimaks” sehingga seluruh kelas menantikan pelajaran berikutnya dengan tidak sabar.

4.  Memberikan tugas
Tugas-tugas harus direncanakan dengan seksama, bahkan sebelum pelajaran dimulai. Perlu diingat pula sikap guru yang bersemangat dalam memberikan tugas akan mempengaruhi minat dan semangat para anggota kelas.
Bentuk-bentuk evaluasi meliputi :

a. Mendemonstrasikan keterampilan
Contoh : Setelah selesai mengarang puisi guru dapat meminta siswa untuk membacakan di depan kelas.
b. Mengaplikasikan ide baru pada situasi lain
Contoh : Guru menjelaskan tentang persamaan kuadrat, kemudian siswa disuruh menyelesaikan soal persamaan.
c. Mengekpresikan pendapat siswa sendiri
Contoh : Guru meminta komentar tentang keefektifan suatu demontrasi yang dilakukan guru atau siswa lain.
d. Soal-soal tertulis
·         Uraian
·         Tes objektif
·         Melengkapi lembar kerja

Permasalahan

Dalam Kurikulum 2013 menggunakan begitu banyak model-model pembelajran antara lain model coveratif ( jigsaw, PBL dan lain-lain) di mana di setiap model terdapat sintak yaitu membuka, inti dan penutup. Yang kita bahas sekarang yaitu membuka dan menutup pembelajaran, permasalahan yang di dapat yaitu apakah tujuan pembelajran akan trcapai jika seorang guru tidak menggunakan apersepsi dalam membuka pembelajran? Tolong solusinya teman