KESULITAN BELAJAR KIMIA
PADA SISWA SMP DAN SMA
Pengertian
belajar
Belajar merupakan
tindakan dan perilaku siswa yang kompleks sebagai tindakan belajar hanya
dialami oleh siswa sendiri. Dimyati dan Mudjono (2013) mengemukakan siswa
adalah penentu terjadinya atau tidak terjadinya proses belajar. Untuk mencapai
tujuan pendidikan yang optimal, salah satu bentuk kegiatannya adalah melalui
pengajaran. Ada berbagai hal yang melatarbelakangi mengapa pengajaran di
sekolah tidak dapat tercapai secara optimal, salah satunya yaitu masalah yang
berkaitan dengan belajar siswa.
Pengertian
ilmu kimia
Ilmu kimia merupakan
ilmu yang mempelajari sifat dan komposisi materi (yang tersusun oleh
senyawa-senyawa) serta perubahannya, bagaimana senyawa-senyawa itu bereaksi/
ber¬kombinasi membentuk senyawa lain. Makanan, minuman, udara, pakaian,
kendaraan, tubuh kita, benda-benda langit yang jauh dari kita tersusun oleh
senyawa kimia. Kehidupan manusia tidak dapat dilepaskan dari kimia,
karena hampir setiap perubahan materi melibatkan proses kimia, proses
pencernaan makanan, pembusukan sampah, penuaan kulit, perkaratan besi,
pembakaran bensin, kebakaran hutan, pelapukan batuan, pembentukan bintang,
pembuatan plastik, pembuatan sabun dan pembuatan obat adalah contoh-contoh
proses kimia.
Pada
tingkat sekolah menengah, fungsi dan tujuan pem¬belajaran ilmu kimia (menurut kurikulum 2004) adalah:
Mata pelajaran Kimia di
SMA & MA berfungsi dan bertujuan sebagai berikut:
1. Menyadari
keteraturan dan keindahan alam untuk meng¬agungkan kebesaran Tuhan Yang Maha
Esa.
2. Memupuk
sikap ilmiah yang mencakup:
a.
sikap jujur dan obyektif terhadap data
b. sikap
terbuka, yaitu bersedia menerima pendapat orang lain serta mau mengubah pandangannya, jika ada bukti bahwa
pandangannya tidak benar;
c. ulet
dan tidak cepat putus asa;
d. kritis
terhadap pernyataan ilmiah, yaitu tidak mudah percaya tanpa ada dukungan hasil
observasi empiris; dan dapat bekerjasama dengan orang lain.
3. Memperoleh
pengalaman dalam menerapkan metode ilmiah melalui percobaan atau eksperimen,
dimana siswa melakukan pengujian hipotesis dengan merancang eksperimen melalui
pemasangan instrumen, pengambilan, pengolahan dan interpretasi data, serta
mengkomunikasikan hasil eksperimen secara lisan dan tertulis.
4. Meningkatkan
kesadaran tentang aplikasi sains yang dapat bermanfaat dan juga merugikan bagi
individu, masyarakat, dan lingkungan serta menyadari pentingnya mengelola dan
melestarikan lingkungan demi kesejahteraan masyarakat.
5. Memahami
konsep-konsep kimia dan saling keterkaitannya dan penerapannya untuk
menyelesaikan masalah dalam kehidupan sehari-hari dan teknologi.
6. Membentuk
sikap yang positif terhadap kimia, yaitu merasa tertarik untuk mempelajari
kimia lebih lanjut karena merasakan keindahan dalam keteraturan perilaku alam
serta kemampuan kimia dalam menjelaskan berbagai peristiwa alam dan
penerapannya dalam teknologi.
Pembelajaran
kimia di SMA/MA di samping mengembangkan sikap ilmiah juga ada pesan moral
dalam mensikapi alam dan keagungan penciptaNya. Untuk mewujudkan pesan moral
perlu pembekalan kepada guru agar dapat membimbing siswa yang mempelajari
kimia semakin menyadari keagungan penciptaNya.
Dalam
mempelajari kimia, siswa dihadapkan pada tiga dunia, yaitu dunia nyata
(makroskopik), dunia atom (mikroskopik), dan dunia lambang. Dunia nyata adalah
sesuatu yang dapat diamati menggunakan pancaindera. Setiap benda tersusun atas
jutaan partikel yang sangat kecil yang disebut atom. Itulah yang disebut dunia
atom. Dunia atom sangat kecil sehingga kita tidak dapat mengunakan pancaindera
untuk mengamatinya. Namun, justru melalui dunia atom inilah dapat dijelaskan
misteri di balik fakta-fakta kehidupan. Bagaimana dengan dunia lambang? Oleh
karena atom tidak dapat diamati menggunakan pancaindera, para ahli Kimia
menjelaskannya dengan menggunakan lambang berupa angka, model, dan huruf.
Masalah yang menarik untuk diperhatian tentang ilmu kimia adalah meskipun ilmu
kimia banyak memberikan manfaat dalam kehidupan manusia, tetapi banyak fakta
menunjukkan bahwa ilmu kimia dipandang ilmu yang sulit, tidak menarik untuk
dipelajari.
Dalam
proses pembelajaran kimia di beberapa sekolah selama ini terlihat kurang
menarik, sehingga siswa merasa jenuh dan kurang memiliki minat pada pelajaran
kimia, sehingga suasana kelas cenderung pasif, sedikit sekali siswa yang
bertanya pada guru meskipun materi yang diajarkan belum dapat dipahami. Dalam
pembelajaran seperti ini mereka akan merasa seolah-olah dipaksa untuk belajar
sehingga jiwanya tertekan. Keadaan demikian menimbulkan kejengkelan, kebosanan,
sikap masa bodoh, sehingga perhatian, minat, dan motivasi siswa dalam
pembelajaran menjadi rendah. Hal ini akan berdampak terhadap ketidaktercapaian
tujuan pembelajaran kimia.
Hasil
penelitian yang dilakukan selama ini (Sunyono, 2005), ternyata rendahnya hasil
belajar siswa tersebut disebabkan pada umumnya siswa mengalami kesulitan dalam
menyelesaikan permasalahan yang menyangkut reaksi kimia dan hitungan kimia,
akibat rendahnya pemahaman konsep-konsep kimia dan kurangnya minat siswa
terhadap pelajaran kimia. Di samping itu, guru kurang memberikan contoh-contoh
konkrit tentang reaksi-reaksi yang ada di lingkungan sekitar dan sering
dijumpai siswa. Oleh sebab itu, diperlukan suatu usaha untuk mengoptimalkan
pembelajaran kimia di kelas dengan menerapkan pendekatan dan metode yang
tepat.
Permasalahan
rendahnya hasil belajar siswa tersebut disebabkan
pada umumnya siswa mengalami kesulitan dalam menyelesaikan permasalahan yang
menyangkut reaksi kimia dan hitungan kimia, biasa atau kebanyakan
guru-guru yang telah lalu, dimana guru mengajar dengan cara metode ceramah,
dalam k-13 banyak mengunakan model- model pembelajaran kita sebagai calon guru
kimia adakah inovasi lain dalam mengajar yang cocok dalam pembelajran reaksi
kimia dan hitungan kimia ini?



