Kesulitan guru dalam membelajarkan materi kimia
di SMP/SMA
Materi
Pelajaran Kimia di SMA banyak berisi konsep-konsep yang cukup sulit untuk
difahami siswa, karena menyangkut reaksi-reaksi kimia dan hitungan-hitungan
serta menyangkut konsep-konsep yang bersifat abstrak dan dianggap oleh siswa
merupakan materi yang relatif baru dan belum pernah diperolehnya ketika di SMP. Banyak sekolah yang ada juga menunjukkan bahwa penyampaian materi kimia SMA dengan metode demonstrasi
dan diskusi nampaknya kurang optimal dalam meningkatkan aktivitas dan minat
belajar siswa.
Dalam proses pembelajaran kimia di beberapa sekolah selama ini terlihat
kurang menarik, sehingga siswa merasa jenuh dan kurang memiliki minat pada
pelajaran kimia, sehingga suasana kelas cenderung pasif, sedikit sekali siswa
yang bertanya pada guru meskipun materi yang diajarkan belum dapat dipahami.
Dalam pembelajaran seperti ini mereka akan merasa seolah-olah dipaksa untuk
belajar sehingga jiwanya tertekan. Keadaan demikian menimbulkan kejengkelan,
kebosanan, sikap masa bodoh, sehingga perhatian, minat, dan motivasi siswa
dalam pembelajaran menjadi rendah. Hal ini akan berdampak terhadap
ketidaktercapaian tujuan pembelajaran kimia.
Rendahnya hasil belajar siswa tersebut disebabkan pada umumnya siswa
mengalami kesulitan dalam menyelesaikan permasalahan yang menyangkut reaksi
kimia dan hitungan kimia, akibat rendahnya pemahaman konsep-konsep kimia dan
kurangnya minat siswa terhadap pelajaran kimia. Di samping itu, guru kurang
memberikan contoh-contoh konkrit tentang reaksi-reaksi yang ada di lingkungan
sekitar dan sering dijumpai siswa. Oleh sebab itu, diperlukan suatu usaha untuk
mengoptimalkan pembelajaran kimia di kelas dengan menerapkan pendekatan dan
metode yang tepat.
Seorang
Guru Kimia SMA/MA dipersyaratkan mempunyai kompetensi dalam bidang akademis
yang cukup kompleks. Sebagai ilustrasi, ada 14 hal yang harus dimiliki guru
Kimia dalam kompetensi profesional, di antaranya adalah: (1) memahami
konsep-konsep, hukum-hukum, dan teori-teori kimia yang meliputi struktur,
dinamika, energetika, dan kinetika serta penerapannya, dan (2) kreatif dan
inovatif dalam penerapan dan pengembangan bidang ilmu kimia dan ilmuilmu yang
terkait (Permendiknas No. 16/2007). Kedua macam kompetensi ini menuntut
penguasaan dan pemahaman konten kimia yang mendalam bagi guru. Selanjutnya
karena apa yang siswa pelajari sangat dipengaruhi oleh cara siswa diajar oleh
gurunya (NRC, 1996: 28), maka cara mengajar guru atau pengetahuan pedagogis
guru tidak bisa dipisahkan dari konten materi yang diajarkan. Konten merupakan
pengetahuan sains yang semestinya dikuasai oleh pengajar, mencakup fakta,
konsep, prinsip, hukum, dan teori (Dahar & Siregar, 2000), sedangkan
pedagogi berhubungan dengan cara-cara yang dapat dilakukan untuk membantu siswa
belajar dan memecahkan masalah dalam sains (Enfield, dalam Purwaningsih, 2011).
Menurut Shulman (1987) pengetahuan konten dan pengetahuan pedagogis harus
dipadukan dalam pembelajaran untuk menciptakan pengetahuan baru: Pedagogical Content Knowledge (PCK). Karenanya, PCK sangat penting dalam proses pembelajaran di
dalam kelas.
Penelitian
di beberapa negara menunjukkan bahwa sains, terutama kimia dan fisika menjadi
salah satu mata pelajaran yang kurang disukai di kalangan siswa. Salah satu
penyebab dari keadaan ini adalah dalam sains terutama kimia, banyak dipelajari
hal-hal yang abstrak, seperti konsep atom, bilangan oksidasi, persamaan reaksi
dan energi. Menurut Gabel, keabstrakan ini menjadikan kimia sebagai pelajaran
yang kompleks. Hal ini menyebabkan banyak kesulitan pada siswa. Selain itu,
Coll & Taylor menyebutkan banyak penelitian yang menunjukkan bahwa terjadi
kesulitan memahami konsep-konsep kimia karena ketidakmampuan menghubungkan
dunia makroskopis dan mikroskopis. Konsep-konsep itu adalah konsep mol,
struktur atom, teori kinetik, termodinamika, elektrokimia, perubahan kimia dan
reaktivitas, penyetaraan persamaan reaksi redoks, dan stereokimia.
Selain
itu, kreativitas guru dalam mengajar juga tampaknya sangat mempengaruhi
keberhasilan suatu pencapaian tujuan pembelajaran. Sebagai contoh, dalam proses
pembelajaran kimia di beberapa sekolah selama ini terlihat kurang menarik,
sehingga siswa merasa jenuh dan kurang memiliki minat pada pelajaran kimia,
sehingga suasana kelas cenderung pasif, sedikit sekali siswa yang bertanya pada
guru meskipun materi yang diajarkan belum dapat dipahami. Dalam pembelajaran
seperti ini mereka akan merasa seolah-olah dipaksa untuk belajar sehingga
jiwanya tertekan. Keadaan demikian menimbulkan kejengkelan, kebosanan, sikap
masa bodoh, sehingga perhatian, minat, dan motivasi siswa dalam pembelajaran
menjadi rendah. Hal ini akan berdampak terhadap ketidaktercapaian tujuan
pembelajaran kimia.
Di sini salah satu kelompok dari mata kuliah workshop mengobservasi salah satu sekolah yang ada di jambi untuk mengetahui kesulitan-kesulitan dalam membelajarkan kimia di SMA
1. Untuk kelas 10
Kesulitan yang didapatkan guru adalah materi kimia itu baru bagi siswa
Karena tidak semua SMP membelajarkan kimia secara lengkap, banyak SMP yang hanya membelajarkan materi secara singkat saja sehingga pemahaman siswa itu kurang yang menyebabkan guru merasa kesulitan untuk menyampaikan materi.
Solusi yang dapat diberikan adalah:
dengan melakukan pendekatan personal , pendekatan personal itu dapat dilakukan di jam pelajaran maupun diluar jam pelajaran.
Kemudian kesulitan yang di dapat oleh guru yaitu Materi kelas X yang dianggap sulit untuk di ajarkan yaitu bentuk molekul dan tata nama senyawa
Alasan mengapa materi bentuk molekul dikatan sulit karena materi bersifat abstrak, siswa disini hanya dapat membayangkan bentuk-bentuk molekul tersebut.
Solusinya yang dapat di berikan yaitu:
guru disini mengguanakan media berupa alat peraga, dimana menggunakan plastin dengan 2 warna yang berbeda, tusuk gigi. Contohnya bentuk molekul dari metana (CH4) , disini atom C dimisalkan dengan plastisin yang berwarna biru yang dibentuk seperti bola dan terhubung dengan plastisin yang berwarna kuning sebagai atom H yang dihubungkan dengan tusuk gigi tadi. Dari perlakuan ini siswa dapat dengan mudah melihat apakah benar bentuk molekul dari metana itu adalah tetrahedral. Kemudian, materi tata nama senyawa, materi ini bukan dianggap sulit tetapi siswa sering terbalik dalam menggunakan tata nama senyawa untuk alkana, alkena dan alkuna.
2. Untuk kelas 12
Kesulitan yang di dapat oleh guru adalah mengjarkan materi sel elektrolisis ( sel elektrokimia )
Solusinya guru memberikan trik-trik dalam mengerjakan soal sehingga siswa terbiasa dengan materi yang dipelajari.
Adapun Persiapan guru sebelum mengajar yaitu:
1. ( sel elektrolisis ) : siswa ditugaskan mencari materi pelajaran yang akan dipelajari. Pada awal pembelajaran dilakukan apersepsi atau aplikasi. Siswa diberi tugas untuk mengobservasi proses penyepuhan emas ditoko emas.
2. ( sel volta ) : pada baterai, siswa ditugaskan untuk membuka baterai sehingga siswa memahami apa-apa saja isi dari baterai ( batang karbon) sehingga baterai tersebut dapat menghantarkan listrik. Sebenarnya yang menjadi kesulitan dalam pembelajaran kimia ini adalah karakteristik dari masing-masing siswa.
Permesalahan
Sudah kita ketahui bahwa pembejaran kimia ini
materi nya adalah bersifat abstrak, sebagai seorang guru cara mengatasinya
adalah dengan mengunakan media supaya memudahkan pemahaman siswa terhadap
materi kimia tersebut, disini masih banyak guru yang kurang memahami cara
mengunkan media tersebut, sebagai calon pendidik bagaimana cara mengatasi
permasalah ni



